PERAN GENERASI MUDA DAN TUA SEBAGAI PENERUS TRADISI SYUKURAN
Gambar 1.0 Melestarikan Tradisi Syukuran wiwitan dan Ajak Pemuda Kembali Ke Sawah. https://jateng.suara.com/read/2021/09/27/125936/melestarikan-tradisi-syukuran-wiwitan-padi-dan-ajak-pemuda-kembali-ke-sawah
Sebagai seorang manusia, tentunya rasa syukur menjadi salah satu hal yang penting dalam menjalani kehidupannya. Dalam perngertiannya, rasa syukur (diambil dari bahasa Arab, yaitu syakaro, yaskuru, atau syukron) merupakan sebuah ucapan terima kasih kepada seseorang yang telah memberikan atau melakukan kebaikan pada dirinya. Selain pengertian di atas, rasa syukur juga dapat diartikan sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah SWT atas kenikmatan yang telah diberikannya dalam kamus bahasa Arab. Gambar 1.0. Dua orang memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan (Sumber: Bola.com) Selain kebahagian dan kenikmatan, ada banyak hal yang dapat disyukuri oleh manusia itu tersendiri, bahkan dari yang paling sederhana saja. Mulai dari sehatnya jiwa raga, kelulusan dalam tes, dan masih banyak lagi yang bisa disyukuri. Ada banyak cara untuk mengekspresikan rasa syukur itu tersendiri, salah satunya adalah dengan beribadah kepada Allah SWT. Dan dalam kehidupan bermasyarakat, tentunya ada semacam tradisi turun temurun yang telah dilakukan oleh nenek moyang dalam menyangkut hal “mengekspresikan rasa syukur”, yaitu acara syukuran. Acara syukuran merupakan salah satu tradisi ritual yang masih dipraktikan dalam kehidupan masyarakat terutama masyarakat Jawa. Acara syukuran sendiri terdiri dari beberapa kegiatan. Diawali dengan berdo’a bersama kerabat dekat, lalu diakhiri dengan makan nasi tumpeng beserta lauk-pauk yang ada di atas tikar, dialasi daun pisang. Dalam melaksanakan acara syukuran, tentunya orang yang menggelar acara tersebut dapat mengundang siapa saja. Mulai dari keluarga, sahabat dekat, kerabat kantor, bahkan tetangga sekalipun dipersilahkan. Gambar 2.0. Contoh acara syukuran. (Sumber: Topsumbar.co.id) Dalam praktiknya, acara syukuran dilaksanakan tidak hanya untuk sekedar makanmakan bersama kerabat dekat, melainkan untuk memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT dan memohon atas perlindingan dan keselamatan dunia akhirat. Selain itu, tujuan dari penggelaran acara syukuran ini bisa dari berbagai alasan, mulai dari kelahiran sang buah hati/anggota keluarga baru, merayakan suksesnya panen, pernikahan seseorang, ulang tahun, peresmian rumah baru, dan masih banyak lagi.
PEMAHAMAN MENGENAI TRADISI SYUKURAN
Asal Muasal dan Pengertian Tradisi Syukuran Tradisi syukuran berasal dari tanah Jawa yang telah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang sekitar zaman pra sejarah, jauh sebelum ajaran Islam dan Hindu menginjak tanah Jawa. Orang Jawa yang pada saat itu membutuhkan hal-hal spiritual yang menyangkut seperti kesejahteraan hidup, keselamatan, dan kedamaian menciptakan sistem kepercayaan yaitu animisme dan dinamisme. Dari adanya kepercayaan tersebutlah, lahirlah ritual yang selama ini kita kenal sebagai syukuran/selametan sebagai hasil dari akulturasi agama pendatang dan kepercayaan nenek moyang bahwa mereka mempercayai adanya kekuatan mistis di dunia ini sebagai penghantar kebaikan dan kejahatan (dan dari kepercayaan itulah, animisme dan dinamisme terlahir). Seperti yang kita ketahui selama ini, acara syukuran terdiri dari beberapa kegiatan, yang dimulai dari do’a bersama yang dipimpin oleh ahli agama. Kemudian, setelah kegiatan berdo’a selesai, acara dilanjut dengan para tamu makan bersama secara lesehan, dengan makanan mulai dari nasi hingga hidangan lauk-pauknya disajikan di atas daun pisang. Dan ciri khas yang sudah melekat apabila berbicara syukuran ialah, selalu menyediakan tumpengan sebagai hidangan di akhir acara. Dan itulah, bagaimana orang-orang mengenal acara syukuran hingga sekarang.
TUJUAN
Tujuan Acara Syukuran Ada banyak alasan dari tujuan digelarnya acara syukuran. Namun, alasan yang sering dijadikan alasan mengapa syukuran itu digerlar adalah dengan tujuan memohon keselamatan atau mensyukuri keselamatan. Oleh karena itu, acara syukuran dianggap sangat penting oleh masyarakat Jawa dikarenakan kepercayaan mereka yang tinggi akan keselamatan jiwa raga. Selain dengan alasan keselamatan, acara syukuran juga dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan tujuan penggelarannya. Yaitu:
1. Digelar pada hari besar/hari perayaan keagamaan seperti pada Maulid Nabi.
2. Menyambut anggota keluarga baru/kelahiran anak.
3. Pernikahan.
4. Tolak bala setelah disembuhkan dari penyakit.
5. Pindahan rumah baru.
6. Dan lain-lain.
Nilai-nilai Sosial Dalam Syukuran Ada beberapa nilai yang bisa diambil dari digelarnya acara syukuran. Yaitu:
1. Mengingatkan kembali akan rasa syukur Sebagai salah satu bentuk dalam mengungkapkan rasa syukur, dengan digelarnya acara syukuran, seseorang atau yang menghadiri acara tersebut akan teringat kembali betapa banyaknya kenikmatan dalam berbagai bentuk yang telah diberikan oleh Allah SWT selama hidup, dan membuatnya merasa bersyukur atas kenikmatan hidupnya selama ini.
2. Mengikat tali persaudaraan Selain memohon atas keselamatan atau mensyukurinya, acara syukuran juga bertujuan untuk membangun ikatan persaudaraan. Karena selama kita berada dalam acara tersebut, tentunya kita akan berinteraksi dengan orang lain dan secara sadar tidak sadar, akan membangun hubungan komunikasi dengan sendirinya. Dan sebagai makhluk sosial, sudah menjadi kewajiban manusia untuk menjaga tali kerukunan antar manusia maupun antar penduduk Desa.
EKSISTENSI SYUKURAN DI ZAMAN MODERN
Seiring berjalannya zaman, dalam masa modern ini, tradisi syukuran amatlah jarang ditemukan, terutama di perkotaan. Dan sekalipun tradisi tersebut masih digelar, namun nilainilai yang menjadikan tradisi tersebut spesial, terasa hilang begitu saja dikarenakan orangorang yang menghadiri acara tersebut hanya menghadirinya begitu saja tanpa ada tegur sapa dan berfokus ke layar ponsel masing-masing. Dan bagian yang lebih mirisnya lagi, orang-orang menghadiri syukuran hanya untuk sekedar ikut berdo’a lalu makan dan pulang. Dan jika hal tersebut terus berlanjut, maka nilai-nilai tradisi tersebut akan menghilang dengan sendirinya perlahan-lahan, hingga pada akhirnya, tradisi peninggalan nenek moyang yang selama ini kita ketahui terlupakan oleh masyarakat. Untuk mencegah hal tersebut terjadi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Yaitu mengenalkan anak-anak mereka sebagai generasi muda dengan tradisi tersebut sebagai peninggalan nenek moyang mereka. Namun, dalam pelestarian budaya/tradisi, peran generasi terdahulu/orang tua mereka sangatlah penting karena tanpa adanya mereka yang mengenalkan sejarah dan mengapa budaya tersebut harus dilestarikan, bisa saja generasi muda tidak paham apa yang harus mereka pertahankan dalam tradisi tersebut dan lebih memilih untuk melupakannya.
A. Peran Generasi Lama Penerus Tradisi Seperti yang telah dijelaskan tadi, generasi muda memegang peran penting dalam eksistensi tradisi tersebut, ialah sebagai pewaris tradisi apabila generasi sebelumnya seperti orang tua mereka dan Kakek Neneknya telah meninggalkan dunia. Dan satusatunya orang yang dapat meneruskan budaya tersebut tak lain adalah generasi muda tersebut-lah. Yang pada akhirnya, mereka akan mengajarkan hal yang sama pada anakanak mereka sebagai generasi penerus mereka untuk terus melestarikan tradisi peninggalan nenek moyang yang telah lama berjalan.
B. Peran Generasi Lama Dalam Membantu Generasi Muda Melestarikan Tradisi Sebagai orang tua dari generasi muda, peran mereka dalam membantu anak-anak mereka sebagai generasi muda yang kelak akan meneruskan tradisi mereka sangatlah penting. Dan cara agar generasi lama mampu meyakinkan anak-anak mereka agar tetap menjalankan tradisi syukuran ini dengan cara:
1. Mengajarkan mereka pentingnya bersyukur Salah satu nilai dari alasan mengapa tradisi syukuran masih dilakukan ialah sebagai bentuk dari rasa syukur. Mengingat kembali bahwa syukuran menjadi salah satu cara penyampaian dalam mengekspresikan rasa bersyukur. Memiliki rasa syukur sangatlah penting sebagai bentuk mensyukuri kehidupan kita karena belum tentu kehidupan orang lain jauh lebih beruntung dari kita. Dan dengan ditunjukannya nilai tersebut, maka generasi muda akan memahami bahwa memiliki rasa syukur itu sangatlah indah dan ingin membagi rasa tersebut kepada orang lain agar mereka paham betapa indahnya ketika mereka memiliki rasa syukur akan kehidupan mereka.
2. Mengajarkan ikatan kerukunan sesama manusia. Pada dasarnya, syukuran mengajak keluarga, sanak saudara, dan rekan-rekan yang selama ini kita kenal bahkan hingga tetangga. Dan dengan mengundang mereka ke dalam acara tersebut, kita tidak hanya mengajak mereka hanya untuk menghabiskan lauk-pauk saja. Namun juga untuk saling berinteraksi kepada satu manusia hingga manusia lainnya melalui saling bicara atau komunikasi. Sederhananya adalah tegur sapa. Dan begitulah cara agar bagaimana hubungan tersebut terbentuk dan bahkan semakin kuat.
Dari kedua nilai di atas sebagai nilai utama, maka generasi muda paham betul akan betapa mulianya nilai-nilai dari tradisi yang selama ini dijalankan oleh nenek moyang mereka dan mereka akan bangga dengan tradisi mereka hingga berkeinginan untuk melestarikannya. Dan semua itu bisa saja tidak terjadi apabila generasi pendahulu sebagai orang tua mereka tidak menjelaskan sejarah dari tradisi tersebut atau mengapa tradisi tersebut harus dilestarikan tanpa menyebutkan mengapa alasannya.

Komentar
Posting Komentar